Kalong, asma, haram/halal ?

Penjualan kalong ( Pteropus celaeno ) meningkat pesat beberapa tahun belakang. Penjualannya mulai dari warung-warung emperan hingga pengusaha rumahan. Biasanya kalong didapat oleh penjual dari agen yang langsung mencari langsung ke hutan. Berita yang beredar, daging dan hati kalong mampu menyembuhkan penyakit asma.

Sebenarnya sebelum menuju ke alternatif daging kalong. Penderita penyakit asma juga telah memulai pengobatan dari tumbuh-tumbuhan yang dipercaya . Diantaranya air dari seduha kecubung ( datura metel I), daun teh ( camellia sinensis ) dan putri malu ( mimosa pudica I ).

Namun karena banyak penderita yang merasa lebih baik setelah memakan daging kalong, daging kalong menjadi pilihan pertama bagi penderita penyakit saluran pernafasan itu.

Halal atau Haram ?

Ketika masyarakat muslim memakan kalong, pernyataan berikutnya tentu bagaimana dengan derajad kehalalannya?

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan Prof DR Abdullah Syah menyimpulkan, memakan kalong haram hukumnya. “Makanan yang boleh dimakan adalah makanan yang mengandung unsur kehalalan dan thayyib (baik). Jika salah satu usnur tidak terpenuhi makanan itu tidak boleh di makan. Halal dan baiknya makanan merupakan persyaratan mutlak yang digariskan Al – Quran,” kata Abdullah.

Disebutkan Abdullah, di Al Quran telah ditegaskan bahwa babi dan ajing adalah haram. Selebihnya hukum haram juga berlaku untuk segala jenis binatang berbisa, hidup di dua alam dan binatang buas. Kalong masuk kategori binatang buas karena memiliki taring kendati hanya memakan buah. “Namun jika untuk obat atau kesehatan, dapat dibolehkan. Khusus dalam kondisi ini, hukum mengkonsumsinya menjadi darurat atau meringankan,” kata Abdullah.

Lebih lanjut diungkapkannya, para ulama mengaitkan keharaman makanan tertentu dengan dampak yang ditimbulkannya pada mental manusia, misalnya daging. “Makanya dalam mengkonsumsi daging, Islam menganjurkan manusia untuk memilih daging dari jenis hewan yang memiliki sifat baik, tidak buas dan bukan golongan pemangsa,” kata Abdullah.

Pendapat ini berbeda disampaikan Ketua MUI Sumut Mahmud Azis Siregar. “Tidak ada nash ataupun disebutkan jelas hukum memakan kalong ini, berbeda dengan babi atau anjing. Ini sifatnya khilafiah, bergantung kepada mazhab masing-masing. Kalau Mazhab Syafii cenderung tidak memperbolehkan. Mungkin karena ada unsur jijik dengan binatang ini,” kata Mahmud.

Disebutkan Mahmud Azis pada prinsipnya tidak masalah memakan kalong, selama memang dia tidak mengandung racun, atau bisa dan membahayakan. Tetapi walau bagaimanapun bergantung pada pendapat masing-masing.

sebagian dikuti dari sini

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: