oleh : Dessita Chairani ( Chitong )
Siang itu masih terasa sisa-sisa hujan tadi pagi. Udaranya dingin, rerumputan yang basah, langit pun masih gelap berawan. Belum ada tanda-tanda awan akan menyingkir dan memberi celah bagi sang surya untuk menerangi jalan-jalan di bawahnya.
Seorang pemuda berdiri di tengah-tengah sebuah padang bunga matahari. Ia sudah disitu sejak pagi. Ia terus berdiri sambil memandangi sebuah batu nisan. Sudah 4 tahun sejak batu nisan itu dibuat. Dibawah batu nisan itu, berbaring orang yang dicintainya, Himawari.
******
Pagi itu Dido sengaja bangun lebih pagi dari biasanya karena ia ingin cepat-cepat pergi ke sekolah. Hari itu adalah awal semester barunya di kelas 4. Di SD Budi Jaya Bandung, setiap kenaikan kelas murid-muridnya tidak diacak lagi menjadi kelas yang baru. jadi Dido dan teman-teman sekelasnya sudah bersama sejak kelas satu, dan sudah akrab sekali. Selama liburan semester kemarin, ia tidak ikut teman-temannya jalan-jalan ke Yogyakarta karena sakit. Dan teman-temannya berjanji akan bercerita kemana saja dan apa saja yang mereka lakukan di Yogyakarta. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar kisah mereka. Setibanya di sekolah, belum ada satu pun teman-temannya yang datang, hanya beberapa murid kelas lain yang ada. Ia sedikit kecewa.
Tak lama kemudian datang beberapa temannya dan langsung diserbunya mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti,”Waktu di Jogja ngapain aja? Kemana aja?”dan lain-lain. Temannya itu hanya tersenyum geli mendengar Dido bertanya memberondong seperti itu, tapi dijawabnya juga pertanyaan-pertanyaan itu.
“KKRRIIIIIIINNGG!!!”terdengar bunyi bel di setiap kelas menandakan pelajaran akan dimulai. Tak lama, Bu Guru pun memasuki ruangan. Tapi beliau tidak sendirian. Beliau bersama seorang anak perempuan yang manis sekali. Mata Dido terpaku melihatnya.
“Selamat pagi anak-anak?” sapa Ibu.
“Selamat pagi, bu!”jawab para murid.
“Seperti yang kalian lihat, ibu membawa seorang teman baru untuk kalian. Namanya Himawari Nugraha. Dia pindahan dari Jakarta. Kalian baik-baik padanya ya? Ayo Hima, perkenalkan dirimu,”kata bu guru.
Dido langsung kecewa begitu tau bahwa anak perempuan yang manis itu dari Jakarta. Ia tidak begitu suka anak-anak dari Jakarta, karena anak Jakarta itu sombong-sombong menurutnya. Ia pernah bertemu anak teman papanya dari Jakarta, didepan orang tuanya anak itu baik sekali kepada Dido, tapi kalau mereka tidaka ada, dia tidak peduli pada Dido. Malah dia menganggap Dido itu sebagai gangguan, jadi dia tidak mau dekat-dekat Dido. Maka Dido pun menjadi benci dengan anak Jakarta.
“Nah, dimana ada bangku kosong ya? AAh! Itu ada di samping Dido. Di barisan paling belakang. Kamu duduk disitu saja ya Himawari?” Tanya bu guru.
“Baik, bu,”jawab Hima seraya melangkah menuju tempat yang ditunjuk bu guru tadi. Pelajaran pun dimulai.
“Hai, nama kamu siapa?”Tanya Hima pada Dido.
“Dido,”jawab Dido singkat tanpa menoleh.
“Boleh berdua buku cetaknya? Aku belum membeli bukunya karena tidak tau yang mana,”Tanya Hima lagi.
Sebagai respon Dido menggeser bukunya ke tengah-tengah mereka berdua.
“Terima KAsih,”kata Hima.
Selama pelajaran berlangsung mereka berdua tidak saling berbicara meskipun bu guru menyuruh mereka mendiskusikan soal latihan. Akhirnya, setelah jam istirahat selesai HIma mulai mengajak ngobrol Dido. Tapi Dido hanya mejawab dengan dingin dan sekenanya saja. Hal ini berlanjut selama beberapa hari.
Setelah dua minggu berlalu, Hima sudah tidak tahan lagi dengan sikap teman sebangkunya itu. Beberapa hari yang lalu, Hima bertanya kepada teman sekelasnya, kenapa sepertinya Dido tidak suka padanya. Lau temannya menjawab,”Sebenarnya Dido tidak suka dengan anak Jakarta.”
“Kenapa?”tanya Hima.
“Entahlah. Dido tidak pernah menceritakannya pada teman-teman sekelasnya. Malu mungkin,”jawab temannya.
Hmm… ternyata begitu… pantas… Aku tidak bias menerima hali ini! Apa salahnya dengan anak Jakarta! Piker Hima panas.
Maka keesokan harinya Hima membulatkan tekad untuk bertanya pada Dido langsung.”Dido, ada hal yang ingin kutanyakan,”Hima memulai.
“Hmm…”kata Dido tanpa ada minat sedikit pun.
“Aku ngerasa kamu gak suka sama aku. Apa karena aku anak Jakarta?”Tanya Hima to the point.
“Menurutmu begitu?”jawab Dido masih tanpa minat.
“Ya!”jawab Hima yakin.
“Apa alas an kamu bilang begitu?”Tanya Dido masih tak acuh.
“Kok malah balik nanya sih?!”jawab Hima dengan sebal.
“ya terserah aku dong!”
“IIIhhh!!! Kamu menyebalkan!!”bentah Hima.
“Siapa yang nyebelin. Bukannya lebih nyebelin anak Jakarta dari anak Bandung! Kalian itu yang sombong dan menyebalkan!”bentak Dido tak mau kalah.
“Ooo… jadi itu alas an kamu gak suka sama anak Read the rest of this entry »





