GeLora Cinta Di paNti Asuhan

IMRE NAGI

Gadis yang termenung di atas kursi di beranda rumah itu adalah Rini. Suara jangkrik yang melengking pun tidak mampu memecah lamunannya. Udara dingin dan kedip-kedip lampu beranda yang mulai rusak, membuat dirinya hanyut dalam lamunan.Waktu terus berlalu, hingga tiba-tiba terlpon genggamnya berdering. Ia melihatnya dan menyadari bahwa tiga hari lagi adalah hari penting dalam hidupnya yaitu, hari ulang tahunnya.

            Ia sendiri tak mengetahui isi hatinya. Bahagia bercampur galau selalu menyesatkan pikirannya. Bagaimana tidak, kekasihnya Ivan, tidak ada menghubunginya sejak tiga hari yang lalu tanpa ada alasan. Selama itu Rini hanya terdiam dalam kebingungan. Sesekali ia mencoba menghubungi Ivan, namun tidak pernah ada jawaban.

            Ivan adalah lelaki yang amat disayanginya. Banyak kenangan indah yang mereka lewati sejak perkenalan pertama hingga kini. Namun, seingat Rini, Ivan tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.

            Hari keempat telah tiba, namun belum ada kabar dari Ivan. Rini pun mulai meneteskan air mata. Yang ada dipikirannya hanya hal-hal negatif. Apakah Ivan telah melupakannya ? Apakah Ivan telah melupakan janjinya untuk merayakan ulang tahunnya bersam-sama ?

            Tak tahan dengan perasaannya. Disiang hari Rini mendatangi tempat kos Ivan berharap mendapatkan kejelasan dari pertanyaannya selama ini. Setiba disana, Rini mengetuk pintu rumah. Sesaat muncul dari balik pintu seorang ibu gemuk yang memberikan senyuman pada Rini. Ia berkata, “Ada apa ya Nak? Ada yang bisa ibu Bantu ?”. “ Saya  mencari Ivan, Buk. Saya teman kuliahnya, Rini.”jawab Rini terbata-bata.

            “Ivan kayaknya dah keluar dari pagi tadi deh.Ada yang bisa Ibu Bantu ?” ,jawabnya tenang.

            Rini terdiam sejenak. Kekecewaan mendalam tampak dari wajah gadis itu. Lemah ia menjawab,”Makasih Buk .Tolong sampaikan pada Ivan saya mencarinya Buk.” Dengan meneteskan air mata, Rini berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.

            Kesedihan Rini mulai memuncak satu hari menjelang ulang tahunnya. Waktu ia habiskan dengan tetesan air mata keraguan. Ia tak berdaya. Otaknya terus berpikir bagaimana menghubungi Ivan. Tapi, tidak ada secercah cahaya yang ia temui. Pertanyaannya terjawab ketika handphonenya berdering karena panggilan dari Rio , sahabat Ivan. Seketika Rini menyadari bahwa kenapa dia tidak menghubungi Rio sekedar untuk menanyakan keadaan Ivan.

            “Hallo..”, jawab Rini.

            “Rin,ada yang pengen gua omongin nih ma lo .”Rio berbicara serius. Keseriusan Rio mengagetkan Rini. Rio pasti tahu sesuatu tentang Ivan. Hanya itu yang terpikir oleh Rini. “Napa lo ? Serius bangeeett !?” ,lanjut Rini seolah tidak ada beban. “ Gini Rin, gua tau Lo lagi mikirin sesuatu.” Jantung Rini berdegup keras seolah ia akan mendengar keputusan tersulit di hidupnya.” Gini,,pasti ulang tahun lo besok gua ditraktirkan ??!!! Hahahaha ….” Rio terbahak-bahak.

            Badan Rini melemah saat mendengar gurauan Rio. Tenang Rini mengakhiri telpon itu, “Iya, kalo gua inget sama Lo”.

            Pupus sudah harapan Rini untuk mengetahui segala kebingungannya. Malam pun ia lalui lagi dengan kesedihan.

            Cerahnya mentari pagi menyambut ulang tahun Rini. Namun wajah Rini tak secerah mentari. Dia masih tampak lesu, bingung dan tak bersemangat. Sesekali Rini terhanyut kembali dalam lamunannya tentang Ivan.

            Ketika dalam lamunan, ia dikejutkan oleh bunyi bel rumahnya. Ia bergegas melihat siapa yang datang.

            Pintu ia buka. Di depan pintu berdiri seorang lelaki berpakaian rapi membawa setangkai mawar merah. Rini terkejut karena yang ada dihadapannnya adalah Ivan, kekasihnya yang belakangan telah melupakannya.

            “Napa pagi-pagi kamu udah kesini ?”,Tanya Rini ketus.

            “Aduh..Ditinggal berapa hari ja dah ngambek..Oh iya, Happy birthday ya sayang.” Jawab Ivan tenang.

            Rini pun masih tak percaya dengan kejadian hari ini. Ivan yang selama ini melupakannya tiba-tiba datang dengan wajah tak berdosa. “Btwe Rin,,aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat. Kamu harus ikut ya ??” Ivan melanjutkan. “Nggak ah..Males.. Aku capek nih..” jawabnya.

            “Pliiiiiiiiizzzzz !!! Kamu ikut ya ??” pinta Ivan dengan sangat. Sebenarnya Rini senang dengan kehadiran Ivan,tapi karena gengsi Rini berpura-pura bersikap ketus . Namun akhirnya Rini tetap mau pergi bersama Ivan.

            Disepanjang perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan. Rini masih tampak kesal dengan sikap Ivan. Sekali Rini bertanya tentang tujuan mereka. Tapi Ivan hanya tersenyum dan diam.

            Setelah limabelas menit perjalanan. Kebingungan Rini bertambah. Sepeda motor Ivan masuk ke dalam komplek Panti Asuhan. Lalu Ivan dan Rini masuk ke dalam sebuah aula di panti asuhan tersebut. Disana ada banyak anak  menyambut mereka. Lalu seorang guru memberikan tanda kepada anak-anak itu. Dan serempak mereka menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun kepada Rini.

Rini pun mengerti kenapa Ivan mengajaknya kesini. Langsung saja ia berpaling ke arah Ivan dan memeluknya. Rini menangis haru . Tak pernah ia menyangka hal ini akan terjadi.

“Sayang, sekarang kamu dah tau kan semuanya ??” tanya Ivan lembut. Rini pun mengangguk dan tersenyum.”Aku ngadain ulang tahun kamu disini supaya kita bisa ngebagi kebahagian kita ma orang lain. “lanjut Ivan .

            Hari itu menjadi hari yang indah dalam hidup Rini. Disana mereka tertawa bersama dan makan kue ulang tahun Rini. Sungguh hari yang indah.          

1 Comment

  1. nagi said,

    March 23, 2008 at 5:42 am

    selamat yo oo !!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: