Musik Digital Ancaman Serius Pendengaran


Penggunaan pemutar musik digital semacam MP3 player ataupun iPod akhir-akhir ini kian membudaya. Namun banyak yak tidak menyadari bahwa penggunaan alat mungil itu secara berlebihan bisa menjadi ancaman berupa kerusakan serius pada pendengaran.

Peneliti di Harvard Medical School Amerika Serikat menyatakan, mendengarkan musik melalui MP3 player dan sejenisnya mendorong seseorang untuk terus memperbesar volume di earphone yang digunakan.

Besarannya pun tak tanggung-tanggung, yakni hingga 130 decibel (dB). Sebagai perbandingan, ukuran 130 db itu disamakan dengan suara yang kita dengar ketika tepat berada di samping mesin jet yang akan lepas landas.

Kecenderungan memperbesar volume muncul karena pengguna ingin menghindari suara-suara dari luar yang dianggap mengganggu keasyikan mendengarkan musik.
Padahal, menurut Royal National Institute for the Deaf di Amerika Serikat, pada saat kita mendengarkan musik tanpa gangguan suara dari luar, saat itulah kita harus melepas earphone yang dipakai. Sebab, hal itu menandakan volume musik yang kita nikmati terlalu keras.

Namun ironisnya, masih banyak yang kurang menyadari akibat negatif itu, sehingga semakin banyak pula orang yang mengarah kepada kerusakan serius pada telinganya. Kerusakan pada indera pendengaran itu tidak akan secara langsung terasa. Telinga akan kehilangan kemampuannya perlahan-lahan seiring semakin bertambahnya usia.
Bahkan, berdasarkan penelitian Deaf and Hard Hearing Services of the Treasure Coast di New York, yang dikutip dari wptv, Rabu (2/4), sebanyak 12 dari setiap 100 anak berusia 6-19 tahun dikatakan berisiko kehilangan kemampuan pendengarannya akibat pemutar musik portabel.

20% Remaja Perancis
Sementara, menurut penelitian seorang pakar akustik Perancis, seperlima remaja negara itu mengalami gangguan pendengaran. Salah satu biangnya ditengarai akibat mereka mendengarkan musik yang terlalu keras via pemutar musik portable seperti MP3 atau yang lainnya.
“Kami percaya bahwa antara 10 sampai 20 persen kaum muda rusak pendengarannya. Ini pun belum dihitung jumlah penderita tinnitus dan hyperacuss di mana mereka terlalu sensitif saat mendengar bunyi tertentu,” tutur Professor Christian Huggonet, pakar akustik itu, seperti dikutip dari AFP, Jumat (10/1).

Huggonet menambahkan, indikasi fenomena ini diperkuat dari laporan dokter-dokter perusahaan yang mengungkapkan peningkatan gangguan pendengaran para pemuda yang ingin melamar pekerjaan. Padahal pekerjaan itu mensyaratkan si pelamar untuk mempunyai pendengaran yang bagus.
Selain dipicu kesukaan kaum muda memutar musik via MP3 terlalu keras, gangguan pendengaran ini juga dikatakan disebabkan karena mereka senang mendatangi konser atau klub malam dengan musik hingar bingar.

Masalah ini juga makin runyam, karena menurut Huggonet, sekali telinga seseorang terbiasa menikmati suara musik yang terlalu keras, sangat sulit bagi mereka untuk mengecilkan level suara. Padahal, pendengaran mereka bisa rusak karenanya.

Sumber : Harian Medan Bisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: