Sunflower’s smile

oleh : Dessita Chairani ( Chitong )

Siang itu masih terasa sisa-sisa hujan tadi pagi. Udaranya dingin, rerumputan yang basah, langit pun masih gelap berawan. Belum ada tanda-tanda awan akan menyingkir dan memberi celah bagi sang surya untuk menerangi jalan-jalan di bawahnya.

Seorang pemuda berdiri di tengah-tengah sebuah padang bunga matahari. Ia sudah disitu sejak pagi. Ia terus berdiri sambil memandangi sebuah batu nisan. Sudah 4 tahun sejak batu nisan itu dibuat. Dibawah batu nisan itu, berbaring orang yang dicintainya, Himawari.

******

Pagi itu Dido sengaja bangun lebih pagi dari biasanya karena ia ingin cepat-cepat pergi ke sekolah. Hari itu adalah awal semester barunya di kelas 4. Di SD Budi Jaya Bandung, setiap kenaikan kelas murid-muridnya tidak diacak lagi menjadi kelas yang baru. jadi Dido dan teman-teman sekelasnya sudah bersama sejak kelas satu, dan sudah akrab sekali. Selama liburan semester kemarin, ia tidak ikut teman-temannya jalan-jalan ke Yogyakarta karena sakit. Dan teman-temannya berjanji akan bercerita kemana saja dan apa saja yang mereka lakukan di Yogyakarta. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar kisah mereka. Setibanya di sekolah, belum ada satu pun teman-temannya yang datang, hanya beberapa murid kelas lain yang ada. Ia sedikit kecewa.

Tak lama kemudian datang beberapa temannya dan langsung diserbunya mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti,”Waktu di Jogja ngapain aja? Kemana aja?”dan lain-lain. Temannya itu hanya tersenyum geli mendengar Dido bertanya memberondong seperti itu, tapi dijawabnya juga pertanyaan-pertanyaan itu.

“KKRRIIIIIIINNGG!!!”terdengar bunyi bel di setiap kelas menandakan pelajaran akan dimulai. Tak lama, Bu Guru pun memasuki ruangan. Tapi beliau tidak sendirian. Beliau bersama seorang anak perempuan yang manis sekali. Mata Dido terpaku melihatnya.

“Selamat pagi anak-anak?” sapa Ibu.

“Selamat pagi, bu!”jawab para murid.

“Seperti yang kalian lihat, ibu membawa seorang teman baru untuk kalian. Namanya Himawari Nugraha. Dia pindahan dari Jakarta. Kalian baik-baik padanya ya? Ayo Hima, perkenalkan dirimu,”kata bu guru.

Dido langsung kecewa begitu tau bahwa anak perempuan yang manis itu dari Jakarta. Ia tidak begitu suka anak-anak dari Jakarta, karena anak Jakarta itu sombong-sombong menurutnya. Ia pernah bertemu anak teman papanya dari Jakarta, didepan orang tuanya anak itu baik sekali kepada Dido, tapi kalau mereka tidaka ada, dia tidak peduli pada Dido. Malah dia menganggap Dido itu sebagai gangguan, jadi dia tidak mau dekat-dekat Dido. Maka Dido pun menjadi benci dengan anak Jakarta.

“Nah, dimana ada bangku kosong ya? AAh! Itu ada di samping Dido. Di barisan paling belakang. Kamu duduk disitu saja ya Himawari?” Tanya bu guru.

“Baik, bu,”jawab Hima seraya melangkah menuju tempat yang ditunjuk bu guru tadi. Pelajaran pun dimulai.

“Hai, nama kamu siapa?”Tanya Hima pada Dido.

“Dido,”jawab Dido singkat tanpa menoleh.

“Boleh berdua buku cetaknya? Aku belum membeli bukunya karena tidak tau yang mana,”Tanya Hima lagi.

Sebagai respon Dido menggeser bukunya ke tengah-tengah mereka berdua.

“Terima KAsih,”kata Hima.

Selama pelajaran berlangsung mereka berdua tidak saling berbicara meskipun bu guru menyuruh mereka mendiskusikan soal latihan. Akhirnya, setelah jam istirahat selesai HIma mulai mengajak ngobrol Dido. Tapi Dido hanya mejawab dengan dingin dan sekenanya saja. Hal ini berlanjut selama beberapa hari.

Setelah dua minggu berlalu, Hima sudah tidak tahan lagi dengan sikap teman sebangkunya itu. Beberapa hari yang lalu, Hima bertanya kepada teman sekelasnya, kenapa sepertinya Dido tidak suka padanya. Lau temannya menjawab,”Sebenarnya Dido tidak suka dengan anak Jakarta.”

“Kenapa?”tanya Hima.

“Entahlah. Dido tidak pernah menceritakannya pada teman-teman sekelasnya. Malu mungkin,”jawab temannya.

Hmm… ternyata begitu… pantas… Aku tidak bias menerima hali ini! Apa salahnya dengan anak Jakarta! Piker Hima panas.

Maka keesokan harinya Hima membulatkan tekad untuk bertanya pada Dido langsung.”Dido, ada hal yang ingin kutanyakan,”Hima memulai.

“Hmm…”kata Dido tanpa ada minat sedikit pun.

“Aku ngerasa kamu gak suka sama aku. Apa karena aku anak Jakarta?”Tanya Hima to the point.

“Menurutmu begitu?”jawab Dido masih tanpa minat.

“Ya!”jawab Hima yakin.

“Apa alas an kamu bilang begitu?”Tanya Dido masih tak acuh.

“Kok malah balik nanya sih?!”jawab Hima dengan sebal.

“ya terserah aku dong!”

“IIIhhh!!! Kamu menyebalkan!!”bentah Hima.

“Siapa yang nyebelin. Bukannya lebih nyebelin anak Jakarta dari anak Bandung! Kalian itu yang sombong dan menyebalkan!”bentak Dido tak mau kalah.

“Ooo… jadi itu alas an kamu gak suka sama anak Jakarta?”Tanya Hima dengan kemenangan tersirat di wajahnya.

“KAMU!!kamu mancing aku buat jawab pertanyaan konyol mu itu ya?!”Tanya Dido geram.

“Nggak kok. Cuma mengalir begitu aja,”jawab Hima santai.”Gimana kalau begini, kamu coba temenan dulu sama aku selama tiga bulan, baru kamu putusin kamu suka aku atau nggak temenan sama aku,”tantang Hima.

“Ngapain? Buang-buang waktuku aja,”jawab Dido sinis.

“Ooo…jadi kamu takut tantangannya? Ternyata kamu pengecut ya?”balas Hima tak kalah sinisnya.

“Enak aja! Siapa yang kamu bilang pengecut? Gak salah tuh?!”balas Dido.

“Buktinya kamu nggak mau terima tantanganku?”jawab Hima.

“Kalau gitu tarik kata-kata mu tadi karena aku terima tantanganmu!”tantang Dido balik.

“Oke. Aku tarik ucapanku tadi,”jawab Hima santai.

Dimulailah masa percobaan berteman tersebut. Mereka mulai akrab satu sama lain. Awalnya Dido tidak berniat akan benar-benar berteman dengan Hima, tapi ia suka berteman dengan Hima karena mereka ternyata cocok.

Setelah lewat 3 bulan,”Gimana Do?”Tanya Hima suatu hari.

“Kamu tau sendirilah jawabanku?! Buat apa ditanya lagi?”Dido bertanya balik.

“Oke. Berarti mulai saat ini kia resmi berteman, ya?”Tanya Hima.

“Kayak abis nandatanganin surat perjanjian aja sih?”balas Dido.

“Biar keren gitu kedengerannya,”jawab Hima ngasal. Lalu mereka berdua tertawa bersama.

Maka mereka pun berteman seutuhnya. Semakin lama mereka semakin akrab. Ketika kelas 6 SD mereka mengetahui bahwa papa mereka ternyata teman baik waktu di SMA. Papa Hima dan Papa Dido sama-sama lulusan SMA 3 Bandung. Dunia ini kecil sekali ya?

Tak terasa sudah 8 tahun mereka bersahabat. Mereka sudah seperti saudara. Sekarang mereka sudah kelas 2 SMA di SMA 3 Bandung. Dalam 8 tahun persahabatan mereka, Dido menyadari perasaannya terhadap Hima lebih dari rasa sayang kepada teman, sahabat, maupun adik. Dido mencintainya, begitu juga dengan Hima. Tapi mereka tidak cukup berani untuk mengatakannya.

Akhir-akhir ini Hiima suka mengeluh pusing-pusing. Dido bilang Hima capek karena dia terlalu banyak kegiatan. Belajar di sekolah, les di luar, sorenya maen basket, dan lain-lain. Maka, Diod mengajak Hima nonton ke bioskop. Memang sudah lama mereka tidak nonton di bioskop.

Ditengah-tengah film, tiba-tiba Hima ingin ke toilet. Tempat duduk di bioskop itu bertingkat-tingkat, toiletnya ada di sisi kiri bagian tengah ruangan itu. Sedangkan Hima duduk di barisan tengah atas. Lalu HIma meraba-raba menuju pintu toiletnya. Karena gelap, Hima tidak dapat melihat apa yang dipijaknya, tiba-tiba ia terjatuh, terguling-guling hingga ke bawah. Dido yang melihat hal itu langsung berlari ke arahnya, memanggil-manggil namanya. Tapi itu sia-sia, karena HIma sudah tak sadarkan diri.

“Seseorang, panggil ambulans!”teriak seseorang di belakang Dido.

Tak lama kemudian amblans dating, Dido ikut dalam ambulans itu meninggalkan mobilny di parkiran bioskop. Sesampai di rumah sakit, HIma langsung di periksa. Sekarang Dido sedang menghubungi orang tua Hima.

“Halo, dengan kediaman rumah Nugraha,”jawab suara diseberang sana.

“Halo! Tante? Ini Dido. Tante bisa ke rumah sakit Hasan Sadikin sekarang? Hima tadi terjatuh dari tangga di bioskop. Kakinya sepertinya patah. Dan sekarang dia masih belum sadarkan diri,”jawab Dido panic.

“Oke. Tante telpon Om dulu, baru tante ke sana. insyaAllah tante sampai 30 menit lagi,”jawab tante Arita.

30 menit kemudian tante Arita datang, di susul Om fahri di belakangnya.

“Bagaimana keadaan Hima Dido?”Tanya Om Fahri.

“Dia masih diruang pemeriksaan,”jawab Dido.

Setelah beberapa menit yang panjang berlalu, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.”Anda keluarga anak ini?”Tanya dokter.

“Kami orang tuanya, dok,”jawab Om Fahri.

“Lalu anda?”Tanya dokter kepada Dido.

“Saya temannya, dok,”jawab Dido.

“Kalau begitu bisakah anda dan istri anda ikut saya sebentar?” Tanya dokter ke Om Fahri.

“Baik, dok,”jawam Om Fahri.

“Nak Dido, kamu pulang saja dulu. Nanti orang tua kamu khawatir kamu tidak pulang. Hari sudah hampir tengah malam,”kata tante Arita.

“Ya tante. Umm… tante, kalau ada apa-apa bisa beritahu Dido?”Tanya Dido.

“Tentu saja tante beri tau nanti,”jawab tante Arita.

“Terima kasih tante. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Di ruangan dokter,”Pak Fahri, Bu Arita, kami telah memeriksa Himawari. Dan hasilnya kaki kirinya patah, lalu,”kata dokter sambil menyerahkan hasil scan otak Hima.

“Kami telah men-scan otak HIma untuk melihat apakah terjadi sesuatu akibat benturan di kepalanya ketika terjatuh.dan kami sangat terkejut dengan hasilnya,”kata dokter misterius.

“Kenapa? Ada apa dengan anak kami dok?”Tanya tante Arita mulai was-was.

“Dari hasil scan yang sudah anda lihat, ada tumor tumbuh di kepalanya. Dan tumor itu sudah masuk ke stadium 3, dan menurut kami, anak anda hanya dapat bertahan hidup selama 3 bulan,”kata dokter.

“Adakah kemungkinan anak kami bisa sembuh dok?” Tanya Om Fahri, tante Arita sudah tidak bisa berkata-kata. Matanya sudah basah.

“Kemungkinan itu selalu ada Pak, tergantung pada Allah dan keinginan hidup sang anak,”jawab dokter.

“Kami mohon, tolonglah anak kami dok,”pinta Om Fahri.

“Akan kami lakukan sebisa kami,”jawab dokter tegas.

Esoknya, Hima sadar. Dido langsung ke rumah sakit sepulang ari sekolah. Setelah bertemu Hima, ia bertanya pada tante Arita tanpa sepengetahuan Hima,”Tante, kemarin dokter bilang apa?”

“Bukan apa-apa Dido. Cuma menyerahkan hasil pemeriksaan Hima,”jawab tante Arita. Ia dan suaminya sepakat tidak mau memberi tahu Dido dulu sebelum mereka memberi tahu Hima.

“Oh begitu. Kakinya bisa kembali normal kan tante?tanya Dido lagi.

“Tentu saja,”jawab tante Arita sambil tersenyum pura-pura.

“oh syukurlah,”jawab Dido.

Tak lama kemudian, Hima menyuruh Dido pulang,”Eh Do, lo pulang gih! Mandi! Bau tau!”kata Hima.

“Sialan lo! Emang gue disini ngapain? Ngamen? Ya enggak lah! Gue disini ngejenguk dan ngejagain lo tau!”balas Dido.

“Kalo yang nemenin gue ka ada mama. Udah! Pulang sono! Gue gak bakal napa-napa. Tenang aja!” kata Hima meyakinkan Dido.

“Gue disini bukan khawatir sama lonya, tapi sama pasien lainnya. Gue jagain lo biar gak usil sama orang lain disini. Nanti lo bikin ulah lagi! Ujung-ujungnya ancur deh ne rumah sakit!”kata Dido sok serius.

“Enak aja! Sialan lo!”balas Hima.

“Hei! Kalian berdua! Udah berantemnya! Hima bener Dido. Kamu kan besok juga harus sekolah,”kata tante Arita.

“Ya udah deh kalau gitu. Tante, Dido pulang dulu ya? Tolong awasin Hima, nanti dia kabur lagi,”jawab Dido.

“Enak aja! Gimana mau kabur? Kaki di gips gini!”balas Hima.

“Hahaha. Beres deh!”jawab tante Arita.

Setelah Dido pulang.”Mama tadi mau bilang apa sama aku sebelum Dido datang?”Tanya Hima.

“Kita nunggu papa dulu ya?”kata tante Arita.

Tak lam kemudian, Om Fahri datang.

“Apa kabar Sunny?”Tanya Om Fahri.

“Udah deh Pa? gak usah manggil aku sama nama itu! Panggil Hima aja kenapa?”jawb Hima sewot. Sunny adalah panggilan saying papanya untuk Hima. Hima paling tidak suka dipanggil dengan nama itu. Menurutnya nama itu kampungan.

“Ya ya anak manis,”jawab papanya sambil mengacak-acak rambut anaknya itu.

“Trus, apa yang mau mama bilang? Papa kan udah dating nih, kasih tau dong! Aku penasaran!”rengek Hima ke mamanya.

Papa dan mamanya saling pandang dengan pandangan yang hanya mereka yang tau maksudnya. Laul,”kamu janji dulu gak bakalan ngamuk?”Tanya papanya.

“Iya-iya. Aku janji. Emang apaan sih?”

“Sebelumnya papa Tanya dulu, kamu belakangan ini sering pusing-pusing tidak?”

“Iya sih. Rasanya kepala mau pecah gitu. Kata Dido mungkin aku kecapean karena kegiatanku banyak banget,”jawab Hima santai.

“Sebenarnya itu bukan Karena kecapean, saying,”jawab papanya.

“Lalu kenapa,” Tanya HIma.

“Itu… Karena…. Kerena di kepalamu ada tumor yang tumbuh dan sudah stadium 3, dan… kata dokter,”Om Fahri menggantung kalimatnya. Ia tidak tega memberi tahukan hal ini pada anak sematawayangnya.

“Kata dokter apa pa?!”teriak HIma. Matanya sudah berlimang air mata.

“Kata dokter… ka… kamu… Cuma bisa hidup 3 bulan lagi,”jawab papanya terbata-bata.

Mamanya langsung mengahambur ke anaknya dan memeluknya erat. Hima menangis meraung-raung di pelukan mamanya. Papanya pun tak lagi dapat menahan air matanya dan ia pun memeluk anak dan istrinya.

“Yang tabah ya nak,”kata papanya dalam tangisnya,”kami akan selalu disampingmu mulai sekarang.”

Selama beberapa menit, keluarga Nugraha menangis bersama. Lalu setelah Hima sudah agak tenang ia berkata,”Mama, Papa, Hima punya satu permintaan dari beberapa permintaan lain.”

“Apa itu sayang? Kami akan mengabulkannya sebisa kami,”jawab mamanya.

“Tolong jangan beri tahu Dido soal penyakitku,”Kata Hima.

Kedua orang tuanya terkejut.”Kamu yakin Hiam?”Tanya mamanya.

“Ya,”jawab Hima tegas,”Dan satu lagi. Aku ingin kita menghilang dari kehidupan Dido hingga aku pergi. Kita pindah tanpa sepengetahuannya. Kita pindah ke Jakarta,”

Papa dan mamanya terdiam. Lalu,”Baiklah. Papa setuju. Mama bagaimana?”Tanya Om Fahri pada istrinya.

“Mama ikut saja keputusan papa,”

“Kalau begitu lusa kita pindah. Besok papa urus semua keperluan kita.”

“Terima kasih ma, pa,”kata Hima sambil tersenyum.

Esoknya Dido datang lagi. Mereka mencoba bersikap biasa-biasa saja, dan Dido tampaknya tidak curiga sama sekali.

Lalu besoknya lagi ketika Dido pergi ke rumah sakit lagi, Hima sudah tidak ada. Pihak rumah sakit mengatakan Himawari sudah keluar tadi pagi.

“Pulang ke rumah atau pindah rumah sakit sus?” Tanya Dido pada susuter yang berjaga di resepsionis.

“Kami tidak tau,”jawab susuter tersebut.

“Masa susuter tidak tau?”desak Dido.

“Kami dilarang memberi informasi tentang pasien bernama Himawari. Kalau anda tidak keberatan, bisa anda tidak bertanya-tanya lagi?”jawab susuter itu sopan tapi menusuk. Lalu Dido pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Kenapa Hima tidak memberitahunya kemarin kalau ia akan keluar hari ini? Lalu apa maksud suster tadi dengan tidak boleh memberi tau tentang Hima?”pikirannya sibuk berpikir. Lalu ia mencari ke seluruh rumah sakit di Bandung, tapi tidak menemukan pasien bernama Hima. Dido juga sudah ke rumah Hima, tapi rumahnya kosong. Kemana Hima pergi?

Dua bulan sudah berlalu. Tapi Dido masih belum tau dimana keberadaan Hima. J=hima yang saat itu berada di salah stu rumah sakit di Jakarta berkata pada mamanya,”Ma, boleh minta kertas dan amplop?”

“Unutk apa Hima?”Tanya mamanya.

“Aku ingin menulis surat untuk Dido. Aku merasa tak enak padanya karena tidak memberi tahukan kepindahan kita. Tapi tidak dikirim sekarang, nanti kalau aku sudah pergi, bisa tolong kirimkan nanti kan ma?”Tanya HIma lagi.

“Tentu sayang,”jawab mamanya lembut.

2 minggu berikutnya, Hima memanggil mama dan papanya, lalu,”Ma,pa, Hima masih punya satu permintaan,”

“Apa itu, nak,”Tanya papanya.

“Kalau Hima sudah pergi nanti, Hima ingin istirahat dikelilingi bunga matahari. Hima ingin berada di tengah-tengah sebuah taman bunga matahari. Aku dan Dido dulu punya impian ingin memiliki sebuah taman bunga matahari. Lalu aku ingin Didolah yang mengurus taman itu nanti. Bisa pa, ma?”

“Kami usahakan nak,”jawab papanya.

Lalu, dua hari setelah permintaan terakhir Hima itu, Hima menutup matanya untuk selamanya. Dia pergi dengan senyum di wajahnya. Mamanya menangis di sampingnya.

Setelah dimandikan dan dikafani, jasad Hima dibawa ke puncak, dimana orang tuanya akan mengabulkan permintaan terakhir anaknya itu. Di sana mereka telah menyiapkan sebuah taman bunga matahari. Lalu dikuburlah jasad Himawari Nugraha disana.

Seminggu kemudian, Om Fahri dan Tante Arita pulang ke Bandung dan langsung ke rumah Dido.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

“Mari masuk. Silahkan duduk. Sudah lama tidak kesini. Kemana saja kalian. Hima mana? Dido kalang kabut mencari Hima lho,”kata tante Nana, mama Dido ke orang tua HIma.

“Ya. Kami selama ini di Jakarta. Kami kesini ingin menyerahkan sesuatu ke Dido,”kata Om Fahri.

“Oh begitu. Biar saya panggilkan dulu, ya?”kata tante Nana seraya melangkah ke tangga untuk pergi ke kamar anaknya di lantai dua. Tak lama kemudian Dido turun.”Apa kabar tante, Om,”sapa Dido.

“Kami baik,”jawab Om Fahri.

“Hima tidak ikut Om,”

“Tidak. Dia tidak akan bisa ke sini lagi,”kata Om Fahri. Suaranya bergetar.

“Maksud Om?”

“Hima menitipkan ini pada kami. Ia ingin kami menyerahkannya ke kamu kalau waktunya sudah tiba,” kata tante Arita sambil memberikan sepucuk surat pada Dido.

“Dido nggak ngerti maksud tante dan Om,”

“Kamu baca saja surat itu, dan kamu akan mengerti. Kami ke sini hanya untuk menyerahkan itu. Kami pamit dulu ya? Slam pada Orang tua mu. Assalamu’alaikum,”kata Om Fahri.

“Wa’alaikum salam.”

Begitu orang tua Hima sudah pergi, Dido langsung pergi ke kamarnya dan membuka surat tadi. Lau dibacanya. Ia dapat merasakan matanya panas dan basah. Ia tak kuasa lagi membendung air matanya. Isi surat itu adalah :

Hi dido!

Watukamu baca surat ini, pasti aku udah pergi untuk selama-lamanya. Melalui surat ini aku ingin minta maaf, berterima kasih, dan membuat pengakuan. Sebaiknya aku mulai dari permintaan maaf dulu ya?

Dido, aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah menghilang tiba-tiba tanpa memberi kabar sedikit pu. Ini kulakukan untuk kebaikan kita berdua. Aku tidak ingin melihatmu menangisi kepergianku, makanya aku memutuskan untuk pergi diam-diam. Tapi aku tak sekejam itu padamu! Sahabatmu yang cantik ini tidak akan “berkejam” ria padamu! Hehehe… maka dari itu aku menulis surat ini.

Yang kedua aku ingin berterima kasih karena kamu dulu msu terima tananganku yang membuat kita bersahabat seperti sekarang ini. Juga terima kasih atas kenangan-kenangan indah yang membuatku menikmati hidupku yang singkat.

Dan yang ketiga, aku ingin mengaku, kalau aku menganggapmu lebih dari teman, sahabat, maupun sebagai abang (walaupun aku sangat ingin punya abang). Yang ingin kukatakan adalah

Aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang paling dalam.

(Aku tau itu gombal banget! Aku gak tai lagi mesti nulisnya gimana. Perasaanku padamu sulit diungkapkan dengan kata-kata)

Aku tau kau hanya menganggapku sebagai sahabat atau pun adik. Tpi itu cukup untukku. Aku tak ingin merusak hubungan baik yang sudah kita jalin dalam 8 tahun ini dengan berpacaran yang beresiko putus dan bertengakar. Jadi aku menyembunyikannya.

Dan terakhir, aku telah meminta bantuan papa untuk membuat impian kita jadi nyata, yaitu puny ataman bunga matahari. Aku ingin kau mengurusnya. Aku sudah bilang ke papa.

Kayanya itu aja deh yang belum aku bilang ke kamu. Jadi surat ini berakhir disini. Terakhir,

Aku merasa aku adalah orang yang paling beruntung punya sahabat sepertimu Dido. Aku mohon kamu jangan lupakan aku ya?

Salam sayang

Himawari

NB:   pergi leh tiap tahun ke tengah taman bunga itu y? kalau bisa istri lo dibawa(kalo udah kawin tapi) kenalin gue ke dia, sambil bilang,”Ini adalah makam sahabatku yang paling baik dan cantik.” Dijamin lo bakal diputusin saat itu juga.hehehe. tapi tergantung ceweknya juga sih. You know what I mean right? Hahah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: